Selasa, 04 Juni 2013
Sabtu, 18 Mei 2013
puisi kasih sayang
Biarkan senyummu menjadi
penutup untuk seluruh kisah hari ini
Meski lelah, biarkan damai
tetap tinggal di hatimu
Jangan biarkan apapun mengusik
ketenangan yang ada
Dan hadapilah hari esokdengan
tetap tersenyum
Karna masih ada sejuta harapan
untuk di warnai dengan senyummu
“medt bobo sayang..”
Created by : Saputra_nc
Saat cinta datang,,
Harusnya ku tak disitu untuk
mempersilahkan masuk
Saat rasa itu benar-benar ada
Harusnya ku putuskan untuk
mengakhiri
Saat raga tak sanggup lagi
menahan kepenatan
Harusnya kau tak disitu untuk
meleburnya
Jika cinta..
Jika rindu..
Jika sayang..
Jika asa itu tercipta bukan
untukku
Tak kan ku lerai ia pergi
Mencari cinta sejati,,
,,, meski bukan diriku,, !!!!
Created by : aisah_is
kumpulan puisi lainnya karya kahlil gibran klik disini kumpulan puisi kahlil gibran
kumpulan puisi lainnya karya kahlil gibran klik disini kumpulan puisi kahlil gibran
Kamis, 16 Mei 2013
SEJARAH SINGKAT DARUSSALAM
Ihwal
kebersahajaan dan kesederhanaan Pesantren Darussalam ternyata sama tuanya
dengan sejarah pesantren ini. Nun di paruh 1929, Kiai Haji Ahmad Fadlil
(meninggal tahun 1950), ayahanda K.H. Irfan Hielmy, memulai kisah kebersahajaan
dengan sebuah masjid dan sebuah bilik sebagai asrama. Santri yang pertama kali
mondok adalah pemuda-pemuda setempat yang tidak saja diajari ilmu-ilmu agama
tetapi diajak mengolah sawah, bercocok tanam, dan diberi contoh bagaimana
memelihara bilik dan memakmurkan masjid. Pesantren Tjidewa, sebutan
untuk komunitas baru itu, dengan cepat mendapat simpati serta dukungan dari
masyarakat sekitar lebih banyak lagi santri yang mondok.
Adalah pasangan suami-isteri Mas Astapradja dan Siti
Hasanah yang mewakafkan tanahnya di Kampung Kandanggajah, Desa Dewasari,
Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, kepada Kiai Ahmad Fadlil. Dibantu oleh masyarakat dan
santri, Pesantren Tjidewa menapaki guratan sejarah dengan optimisme
menghilangkan benalu yang menempel dalam ajaran Islam.
Menjelang proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, di
Pesantren Tjidewa sudah mondok 400 orang santri yang mengaji ilmu tafsir, ilmu
hadits, sejarah, dan perbandingan madzhab, di samping kitab-kitab ilmu sharaf
dan ilmu nahwu. Keputusan Kiai Ahmad Fadlil dengan hanya menerima santri putra
tidak terlepas dari kondisi saat itu yang tidak bisa keluar dari kontelasi
keamanan akibat penjajahan Belanda. Karena didorong oleh keinginan untuk
melepaskan diri dari cengkraman penjajah dan ditambah dengan meluapnya semangat
santri untuk menghalau Belanda, Kiai mengajarkan pula strategi berdiplomasi
mengatasi tekanan penjajah. Apalagi dengan kemampuannya berbahasa Belanda--ia
belajar bahasa Belanda kepada kakek dari keluarga ibunya sejak di sekolah
rakyat ( Vervolg School )--dengan mudah bisa menyerap berbagai informasi yang
kelak berguna sebagai modal berdiplomasi.
Lebih dari itu, penguasaan terhadap teks berbahasa
Arab telah tampak sejak Ahmad Fadlil muda berhasil menghapal kitab-kitab Jauharul
Maknun, ‘Uqudul Juman, Talkhisul Miftah dan syair-syairnya. Bahkan, pada usia 31 tahun, ia
telah berhasilmenerjemahkan Qasidah Burdah karya Muhammad Said al-Busyiri.
Sampai sekarang, Qasihdah Burdah berbahasa Sunda yang merupakan karya
terjemahan masterpiece Kiai Ahmad Fadlil, masih terdengar dibaca dan
didendangkan oleh santri-santri di banyak pesantren tradisional terutama di
Jawa Barat.
KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN
AGAMA
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Individual
Mata Kuliah
Perkembangan Peserta Didik
Dosen Pengampu : Kiswan, S.Ag., M.Pd.
Di susun :
Iis Aisah
2B (PGMI)
INSTITUT AGAMA ISLAM DARUSSALAM
FAKULTAS TARBIYAH
PROGRAM PENDIDIKAN MADRASAH IBTIDAIYAH
CIAMIS-JAWA BARAT
2013
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Manusia
dilahirkan di dunia ini dalam keadaan lemah, fisik maupun psikis. Walaupun
dalam keadaan yang demikian ia telah memiliki kemampuan bawaan yang bersifat
latin. Potensi bawaan ini memerlukan pengembangan melalui bimbingan dan
pemeliharaan yang mantap terlebih pada usia dini. Fisik atau jasmani manusia
baru akan berfungsi secara sempurna jika dipelihara dan dilatih. Akal dan
fungsi mental lainnya pun baru akan berfungsi jika kematangan dan pemeliharaan
serta bimbingan dapat diarahkan kepada pengeksplorasian perkembangannya.
Kemampuan itu tidak dapat dipenuhi secara sekaligus melainkan melalui pentahapan.
Dengan
perkembangan agama ini anak juga akan dikenalkan tentang bagaimana ia mengenal
konsep tuhan dan tahapan-tahapannya, juga faktor-faktor yang mempengaruhi
perkembangan agama.
1.2. Rumusan Masalah
1.2.1. Pengertian Perkembangan Agama ?
1.2.2. Bagaimana perkembangan agama pada
masa anak-anak ?
1.2.3. Bagaimana sifat agama pada anak ?
1.2.4. Apa saja tahap perkembangan agama
pada anak ?
1.2.5. Apa saja faktor yang mempengaruhi
perkembangan agama ?
1.2.6. Bagaimana upaya optimalisasi
perkembangan agama ?
1.3. Tujuan Permasalahan
1.3.1. Mengetahui pengertian perkembangan
agama.
1.3.2. Mengetahui bagaimana perkembangan
agama pada masa anak.
1.3.3. Mengetahui bagaimana sifat agama
pada anak.
1.3.4. Mengetatahui tahap perkembangan
beragama pada anak.
1.3.5. Mengetahui apa aja faktor yang
mempengaruhi perkembangan agama.
1.3.6. Mengetahui upaya optimalisasi
perkembangan agama.
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Perkembangan Agama
Perkembangan
merupakan suatu perubahan dan perubahan ini tidak bersifat kuantitatif
melainkan kualitatif yaitu meliputi perkembangan segi fungsi-fungsi kepribadian
manusia misalnya fungsi perhatian, pengamatan, tanggapan, ingatan, fantasi,
pemikiran, perasaan dan kemauan setiap fungsi yang disebutkan di atas dapat
mengalami perubahan. Perubahan ini tidak dapat dikatakan sebagai pertumbuhan
melainkan perkembangan. Oleh karena itu perkembangan menyangkut berbagai fungsi
baik jasmaniah maupun rohaniah maka akan salah apabila kita beranggapan bahwa
perkembangan adalah semata-mata sebagai pertumbuhan atau proses psikologis
perkembangan.
Perkembangan
jiwa beragama pada anak mengikuti pada aspek perkembangan jiwa yang lainnya.
Pada umumnya, pembahasan tentang perkembangan jiwa terbagi menjadi tiga bagian,
pembagian tersebut amat disederhanakan, sehingga membutuhkan pejelasan
tersendiri.
a.
Menurut
Zakiah Darajat
Klasifikasi
yang ditampilkan misal amat luas. Sebagai contoh adalah perkembangan jiwa pada
masa anak-anak, termasuk di dalamnya perkembangan pada masa sebelumnya, masa
anak-anak awal, sehingga rentang untuk anak-anak dimulai dari umur 2-12 tahun,
yang jelas jauh beragam dan terpadu.
Zakiah
Darajat menjelaskan bahwa dalam diri manusia, selain mempunyai kebutuhan
jasmani juga mempunyai kebutuhan rohin. Terdapat enam unsur kebutuhan yaitu:
1) Kebutuhan akan kasih sayang
2) Kebutuhan akan rasa aman
3) Kebutuhan akan rasa harga diri
4) Kebutuhan akan rasa bebas
5) Kebutuhan akan rasa sukses dan
6) Kebutuhan akan rasa ingin tau.
Gabungan
dari keenam kebutuhan itu menyebabkan orang membutuhkan agama.
b. Menurut Bernard Spikal, Walter
Houstan Clark, Leiws Sherril dan sebagainya.
Dalam
penjelasannya diuraikan tentang perkembangan religius selama tahap-tahap besar
dalam kehidupan. Mereka mencoba mengungkap sumber jiwa beragama pada diri
seseoarang.
c.
Thomas
mengungkapkan teori The Four Wishes (1969).
Menyatakan terdapat
empat macam keinginan dasar yang ada pada dalam jiwa, dan inilah yang menjadi
sumber jiwa beragama, yaitu:
1) Keinginan untuk keselamatan
2) Keinginan untuk mendapat penghargaan
3) Keinginan ditanggapi dan
4) Keinginan akan pengetahuan
(pengalaman) yang baru.
d. G.M. Straton (1993)
Mengemukakan
teori konflik. Jiwa Jiwa beragama,menurutnya adalah bersumber pada adanya
konflik dalam kejiwaan manusia. Jika konflik itu mulai mencekam manusia akan
mempengaruhi keadaan jiwanya, manusia akan berusaha mencari pertolongan pada
kekuasaan yang tertinggi. Thomas Van Aquino berpendapat bahwa sumber jiwa agama
adalah berpikir. Manusia bertuhan karena manusia menggunakan kemampuan
berpikirnya. Manusia bertuhan karena manusia menggunakan kemampuan berpikirnya.
Jadi,
perkembangan agama dapat dikatakan sebagai bentuk perubahan kepribadian manusia
yang meliputi perhatian, pengamatan, tanggapan, ingatan, fantasi, pemikiran,
perasaan dan kemauan tentang adanya konsep ke-Tuhanan.
2.2. Perkembangan agama pada masa anak
Pada umumnya
agama seseorang ditentukan oleh pendidikan,pengalaman dan latihan-latihan yang
dimulai pada masa kecilnya dulu yang didapatkan dari keluarga, pendidikan
sekolah dan lingkungan sekitarnya. Apabila seorang pada masa kecilnya tidak
pernah mendapatkan pendidikan agama, maka kelak dewasanya nanti ia tidak akan
merasakan pentingnya agama dalam hidupnya. Lain halnya dengan anak yang waktu
kecilnya mempunyai pendidikan dan pengalaman agama, misalnya ibu dan bapaknya
orang tua beragama, lingkungan sosial dan kawan-kawannya juga hidup menjalankan
agama. Maka orang itu dengan sendirinya mempunyai kecenderungan kepada hidup
dalam aturan-aturan agama, dan dapat merasakan betapa nikmat hidup dalam
beragama.
Bagaimana
timbulnya kepercayaan agama pada anak-anak, jika anak-anak dibiarkan saja tanpa
didikan agama, dan hidup dalam lingkungan tidak beragama, maka ia akan menjadi
dewasa tanpa agama. Pendapat Kohnstam mengenai tahap perkembangan pada
kehidupan manusia dibagi menjadi lima periode, yaitu: pertama, Periode vital
(umur 0-3 tahun), kedua, periode estetis/masa mencoba dan bermain (umur 3-6
tahun), ketiga, periode intelektual ”masa sekolah” (umur. 6-12 tahun), keempat,
masa adolescence atau masa pemuda (umur 12-21), kelima, masa kematangan fisik
dan psikis-dewasa (umur 21 keatas).
Elizabeth B.
Hurlock membagi masa kanak-kanak menjadi tiga periode, yaitu:
· 0-2 tahum (masa vital)
· 2-6 tahun masa(kanak-kanak)
· 6-12 tahun (masa sekolah)
Ada dua
pendapat yang menyatakan bahwa anak dilahirkan bukan sebahgai makhluk religius,
melainkan tak ubahnya seperti makhluk lainnya. Dan yang kedua pendapat para
ahli mengemukakan bahwa anak dilahirkan telah membawa fitrah keagamaan, dan
baru berfungsi kemudian setelah melalui bimbingan dan latihan sesuai dengan
tahap perkembangan jiwanya. Sejalan dengan sependapat diatas, seperti yang
telah popular sebuah statement yang dikemukakan oleh William Stem dalam faham
konvergensinya bahwa perkembangan individu itu baik dasar (bakat dan keturun)
maupun lingkungan keduanya memerankan peranan penting.
Jadi,
penulis menyimpulkan perkembangan jiwa beragama pada anak diperoleh melalui
pendidikan, bimbingan dan pengalaman-pengalaman yang diterima dari lingkungan
kemudian terbentuklah rasa keagamaan pada diri anak.
2.3. Sifat agama pada masa anak
Sifat Agama
pada anak mengikuti pola concept on authority yaitu konsep keagamaan, yang
dipengaruhi oleh faktor dari luar diri mereka anak itu sendiri. Ketaatan dan
tidaknya dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, orang tua atau guru mereka. Sifat
Keagamaan pada anak dapat dibagi menjadi enam bagian, antara lain :
a. Unreflektif (kurang mendalam
dangkal/tanpa kritik)
dalam
penelitian Machion tentang sejumlah konsep ke-Tuhanan pada diri anak, 73%
mereka manggap tuhan itu bersifat seperti manusia. Pada fase ini anak memahami
kebenaran agarna kurang begitu mendalam, mereka merasa puas dengan
penjelasan/keterangan walaupun kurang masuk akal. Menurut penelitian, pikiran
kritis baru muncul ketika umur 12 tahun, sejalan dengan perkembangan moral.
b. Egosentris
Anak
memiliki kesadaran akan diri sendiri sejak tahun pertama usia perkembangannya
dan akan berkembang sejalan dengan pertambahan pengalamannya. Anak lebih
menonjolkan kepentingan dirinya dan lebih menuntut konsep keagamaan yang mereka
pandang dan kesenangan dirinya. Sebagai contoh tujuan do'a dan sholat yang
mereka lakukan adalah untuk mencapai keinginan pribadi.
Mereka
meminta sesuatu yang diinginkannya, minta ampun atas segala dosa yang telah
diperbuatnya, dan minta tolong atas ketidakmampuan yang mereka hadapi, sifat
ini muncul berkisar antara usia 5-9 tahun. Dalam usia ini juga doa secara
khusus dihubungkan dengan kegiatan atau gerak-gerik tertentu, tetapi amat
konkret dan pribadi. Pada usia 9-12 tahun ide tentang do’a sebagai komunikasi
antara anak dengan yang ilahi mulai tampak. Setelah itu isi do’a beralih dari
keiniginan egoistis menuju masalah yang tertuju pada orang lain yang bersifat
etis.
c. Andiromorphis
Konsep anak
mengenai ketuhanan pada umumnya berasal dari pengalaman. Ketika berhubungan
dengan orang lain. Tapi suatu kenyataan bahwa konsep ke-Tuhanan mereka tampak
jelas menggambarkan aspek-aspek kemanusiaan. pertanyan anak mengenai
"bagaimana" dan "mengapa" biasanya mencerminkan usaha
mereka menghubungkan penjelasan religius yang abstrak dengan dunia pengalaman
mereka yang bersifat subjektif dan konkrit.
Hasil
penelitian Praff misalnya anak usia 6 tahun, kebanyakan menggambarkan Tuhan
seperti manusia yang mempunyai wajah, telinga, mata, dsb. Dan memberi ganjaran
atau hukuman misalnya dihubungkan dengan oiang tua ketika memberi hadiah.
d. Verbalis dan Ritualis
Kehidupan
agama pada anak sebagian besar tumbuh dari sebab ucapan (verbal). Mereka
menghafal secara verbal kalimat-kalimat keagamaan dan mengajarkan amaliah yang
mereka laksanakan berdasarkan pengalaman Yang diajarkan kepada mereka. Menurut
penyelidikan hal itu sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan agama anak di
usia dewasa. Latihan-latihan bersifat verbalis dan upacara keagamaan yang
bersifat ritualis (praktik) merupakan hal berarti dan merupakan salah satu ciri
dari tingkat perkembangan agama pada anak-anak.
e.
Imitatif
Peranan
orang tua terhadap anak sangatlah penting, karena perbuatan tindak keagamaan
anak yang dilakukan oleh anak-anak pada dasarnya diperoleh melalui imitasi
(meniru). Sifat peniru ini merupakan modal yang positif dalam pendidikan
keagamaan pada anak. Pendidikan sikap religius anak pada dasarnya tidak
berbentuk pengajaran akan tetapi berupa teladan atau peragaan hidup yang nyata
(riil). Penghayatan keagamaan anak-anak sebenarnya belum merupakan keseriusan,
sebab tingkat perkembangan pikirannya baru pada tingkat imitative.
f.
Rasa heran
Rasa heran
dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan pada anak. Berbeda dengan rasa
heran pada orang dewasa, rasa heran dan kagum anak belum didasari dengan kritis
dan kreatif. Mereka hanya kagum dengan keindahan lahiriyah saja. Hal ini
merupakan langkah pertama dari pernyataan kebutuhan anak akan dorongan untuk
mengenal sesuai yang baru (new experience). Untuk itu perlu bagi orang tua
memberi pengertian dan penjelasan sesuai dengan perkembangan pemikirannya.
2.4. Tahap perkembangan beragama pada
anak
Menurut
penelitian Ernes Harm dalam bukunya the development of religious of children
mengatakan bahwa ada 3 tingkatan perkembangan agama pada masa anak-anak,
yaitu :
a. The fairy tale stage ( tingkatan
dongeng ).
Tingkatan
ini di mulai pada anak yang berusia 3-6 tahun. Pada tingkat ini konsep mengenai
Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi, sehingga dalam
menanggapi agama, anak masih menggunakan konsep fatantis yang diikuti oleh
dongeng-dongeng yang kurang masuk akal. Pada usia ini, perhatian anak lebih
tertuju pada para pemuka agama dari pada isi ajarannya, dan cerita akan lebih
menarik jika berhubungan dengan masa anak-anaknyakarena sesuai dengan dengan
jiwa anak-anaknya.
b. The realistic stage ( Tingkat
Kenyataan ).
Tingkat ini
dimulai sejak anak masuk sekolah dasar hingga ke usia (masa usia) adolesense.
Pada masa ini ide ke-Tuhanan anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang
berdasarkan kepada kenyataan (realistas). Dan biasanya muncul dari lembaga
agama atau pengajaran orang dewasa.pada masa ini konsep Tuhan di dasarkan atas
emosinya, sehingga melahirkan konsep Tuhan yang formalis. Pada tingkat ini
pemikiran anak tentang Tuhan sabagai bapak beralih pada Tuhan sebagai pencipta.
Pada tahap ini jaga terdapat satu hal yang perlu di garis bawahi anak dalam
usia 7 tahun anak di pandang sebagai permulaan pertumbuhan logis. Seperti
contoh anak di biasakan melakukan shalat usia dini dan pukulah bila anak
melanggarnya, sebagaimana hadist berikut :
لسبع سنين واضر بو هم عليها لعشر سنين
و فر قوا بينهم فى المضا جع الحديث قال رسول الله ص م
c. The individual stage ( Tingkat
individu )
Pada tingkat
ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang paling tinggi sejalan dengan
perkembangan usia mereka.
2.5. Faktor yang Mempengaruhi
Perkembangan Anak
a.
Faktor
Lingkungan Keluarga
Keluarga
merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak. Oleh karena itu, kedudukan
keluarga dalam pengembangan kpribadian anak sangatlah dominan. Dalam hal ini,
orang tua mempunyai peranan yang sangat penting dalam menumbuhkembangkan fitrah
beragam anak.
b. Faktor Teman Sejawat atau Lingkungan
Bermain
Saat anak
bartambah usia dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan anggota kelompok
sebaya, teman-teman ini akan mempengaruhi perkembangan agamanya. Semakin kecil
kelompok kelompoknya, semakin besar juga pengaruh kelompok itu terhadap anak.
c.
Faktor
Lingkungan Sekolah
Sekolah
merupakan lembaga pendidikan formal yang mempunyai program yang sistematik
dalam melaksanakan bimbingan, pengajaran, dan latihan kepada peserta didik agar
mereka berkembang sesuai dengan potensinya.
d. Faktor Perilaku atau Pribadi Orang
Dewasa
Kualitas
perkembangan kesadaran baragama bagi anak sangat bargantung juga pada kualitas
perilaku atau pribadi orang dewasa atau warga masyarakat.
e.
Media masa
Media masa
sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan seseorang, dengan adanya media masa,
seorang anak dapat mengalami perkembangan dengan pesat. Media masa dapat
merubah perilaku seseorang ke arah positif dan negatif.
2.5. Upaya Optimalisasi Perkembangan
Agama pada Anak
Keluarga
adalah tempat yang pertama bagi anak untuk memperoleh pembinaan mental dan
pembentukan kepribadian. Demikian juga gengan agama, orang tua harus memberikan
perlakuan yang adil serta dibiasakan pula untuk berbuat adil sehingga rasa
keadilan dapat tertanam dalam jiwa anak. Mengingat pentingnya pendidikan agama
bagi anak dan banyaknya orang tua yang yang tidak mengerti tentang agama, maka
pendidikan agam harus dilanjutkan disekolah. Pendidikan agama di sekolah
bertujuan untuk membina dan menyempurnakan pertumbuhan, perkembangan dan
kepribadian anak didik.
Pembinaan
jiwa agama pada anak menjadi tanggung jawab semua pihak menuju terciptanya
kematangan beragam si anak di kemudian hari. Ciri-ciri kematangan beragama
seseorang menurut Yusuf (2006), adalah :
a. Kesadaran bahwa setiap perilakunya
tidak terlepas dari pengawasan Allah.
b. Mengamalkan ibadah ritual secara
ikhlas.
c. Menerima romantika kehidupan dengan
ikhlas.
d. Bersyukur dengan pembuktian bila
mendapatkan anugerah.
e. Bersabar pada saat mendapatkan
musibah.
f. Manjalin ukhuwah islamiyah.
g. Menegakkan amar makhruf dan nahi
munkar.
Untuk mencapai
kematangan seperti disebutkan diatas, beberapa upaya dapat dilakukan, khususnya
di lingkungan sekolah, upaya yang dimaksud adalah sebagai berikut :
a.
Guru agama
di tuntut untuk memiliki karakteristik yang menunjang peningkatan minat agama
para siswa, seperti :
1) Kepribadian yang mantap (akhlak
mulia) seprti : jujur, bertanggung jawab, berkomitmen terhadap tugas, disiplin
dalam bekerja, kreatif, dan resfek terhadap siswa.
2) Menguasai disiplin ilmu dalam bidang
studi agama islam, memiliki pemahaman yang memadai tentang bidang studi yang
diajarkan.
3) Memahami ilmu-ilmu lain yang relevan
atau menunjang kemampuannya dalam mengelola proses pembelajaran.
b. Kepedulian kepala sekolah,
guru-guru, dan staf sekolah lainnya terhadap pelaksanaan pendidikan agama
(penanaman nilai-nilai agama) di sekolah, baik melalui pemberian contoh dalam
dalam bertutur kata, berperilaku dan berpakaian yang sesuai dengan ajaran
islam.
c.
Tersedianya
sarana ibadah yang memadai dan memfungsikannya secara optimal.
d. Terselenggaranya kegiatan ekstra
kurikuler kerohanian bagi para siswa dan ceramah-ceramah atau diskusi keagaaman
secara rutin.
Dengan
demikian, dapat penulisan simpulkan bahwa keluarga dan sekolah mempunyai andil
yang besar dalam pendidikan agama anak. Di keluarga orang tua lah yang
memberikan pembinaan mental dan pembentukan kepribadian anak. Di sekolah guru
agama di tuntut untuk memiliki karakteristik yang menunjang peningkatan minat
agama para siswa. Tersedianya sarana ibadah yang memadai juga berperan penting
dalam membina pendidikan beragama pada anak.
BAB 3
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Agama pada
masa anak-anak terbentuk melalui pengalaman-pengalaman yang diterima dari
lingkungan lalu terbentuk sifat keagamaan pada anak, Woodwort berpendapat bahwa
bayi memiliki insting keagamaan, akan tetapi disanggah oleh pemikir Islam bahwa
bayi tidak mempunyai insting keagamaan melainkan itu merupakan fitrah yang
cenderung kearah potensi keagamaan.
Tahap
perkembangan keagamaan pada anak melalui tiga tahapan yaitu tingkat dongeng,
tingkat kepercayaan, dan tingkat individu sifat Agama pada anak mengikuti pola
concept on authority yaitu konsep keagamaan yang dipengaruhi oleh faktor dari
luar diri mereka (anak) itu sendiri. Memahami sifat agama pada anak berarti
memahami sifat agama itu sendiri.
3.2. Saran
Dengan
penulisan makalah ini, penulis mengharapkan para pembaca tidak pernah puas
untuk menggali lebih dalam lagi tentang perkembangan-perkembangan pada anak.
karena masih banyak lagi perkembangan selain dari perkembangan agama yang tidak
penulis jelaskan dalam makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Jalaludin.
2004. Psikologi Agama. Raja Grafindo Persada : Jakarta
Yusuf,
Samsu. 2006. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Rosda Karya :
Bandung
Langganan:
Postingan (Atom)

