Kamis, 16 Mei 2013

SEJARAH SINGKAT DARUSSALAM




         Ihwal kebersahajaan dan kesederhanaan Pesantren Darussalam ternyata sama tuanya dengan sejarah pesantren ini. Nun di paruh 1929, Kiai Haji Ahmad Fadlil (meninggal tahun 1950), ayahanda K.H. Irfan Hielmy, memulai kisah kebersahajaan dengan sebuah masjid dan sebuah bilik sebagai asrama. Santri yang pertama kali mondok adalah pemuda-pemuda setempat yang tidak saja diajari ilmu-ilmu agama tetapi diajak mengolah sawah, bercocok tanam, dan diberi contoh bagaimana memelihara bilik dan memakmurkan masjid. Pesantren Tjidewa, sebutan untuk komunitas baru itu, dengan cepat mendapat simpati serta dukungan dari masyarakat sekitar lebih banyak lagi santri yang mondok.

Adalah pasangan suami-isteri Mas Astapradja dan Siti Hasanah yang mewakafkan tanahnya di Kampung Kandanggajah, Desa Dewasari, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, kepada Kiai Ahmad Fadlil. Dibantu oleh masyarakat dan santri, Pesantren Tjidewa menapaki guratan sejarah dengan optimisme menghilangkan benalu yang menempel dalam ajaran Islam.
Menjelang proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, di Pesantren Tjidewa sudah mondok 400 orang santri yang mengaji ilmu tafsir, ilmu hadits, sejarah, dan perbandingan madzhab, di samping kitab-kitab ilmu sharaf dan ilmu nahwu. Keputusan Kiai Ahmad Fadlil dengan hanya menerima santri putra tidak terlepas dari kondisi saat itu yang tidak bisa keluar dari kontelasi keamanan akibat penjajahan Belanda. Karena didorong oleh keinginan untuk melepaskan diri dari cengkraman penjajah dan ditambah dengan meluapnya semangat santri untuk menghalau Belanda, Kiai mengajarkan pula strategi berdiplomasi mengatasi tekanan penjajah. Apalagi dengan kemampuannya berbahasa Belanda--ia belajar bahasa Belanda kepada kakek dari keluarga ibunya sejak di sekolah rakyat ( Vervolg School )--dengan mudah bisa menyerap berbagai informasi yang kelak berguna sebagai modal berdiplomasi.
Lebih dari itu, penguasaan terhadap teks berbahasa Arab telah tampak sejak Ahmad Fadlil muda berhasil menghapal kitab-kitab Jauharul Maknun, ‘Uqudul Juman, Talkhisul Miftah dan syair-syairnya. Bahkan, pada usia 31 tahun, ia telah berhasilmenerjemahkan Qasidah Burdah karya Muhammad Said al-Busyiri. Sampai sekarang, Qasihdah Burdah berbahasa Sunda yang merupakan karya terjemahan masterpiece Kiai Ahmad Fadlil, masih terdengar dibaca dan didendangkan oleh santri-santri di banyak pesantren tradisional terutama di Jawa Barat.


KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN
AGAMA
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Individual Mata Kuliah
Perkembangan Peserta Didik
Dosen Pengampu : Kiswan, S.Ag., M.Pd.

Di susun :

Iis Aisah

2B (PGMI)




INSTITUT AGAMA ISLAM DARUSSALAM

FAKULTAS TARBIYAH

PROGRAM PENDIDIKAN MADRASAH IBTIDAIYAH

CIAMIS-JAWA BARAT

2013





BAB 1

PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang

Manusia dilahirkan di dunia ini dalam keadaan lemah, fisik maupun psikis. Walaupun dalam keadaan yang demikian ia telah memiliki kemampuan bawaan yang bersifat latin. Potensi bawaan ini memerlukan pengembangan melalui bimbingan dan pemeliharaan yang mantap terlebih pada usia dini. Fisik atau jasmani manusia baru akan berfungsi secara sempurna jika dipelihara dan dilatih. Akal dan fungsi mental lainnya pun baru akan berfungsi jika kematangan dan pemeliharaan serta bimbingan dapat diarahkan kepada pengeksplorasian perkembangannya. Kemampuan itu tidak dapat dipenuhi secara sekaligus melainkan melalui pentahapan.

Dengan perkembangan agama ini anak juga akan dikenalkan tentang bagaimana ia mengenal konsep tuhan dan tahapan-tahapannya, juga faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan agama.


1.2.  Rumusan Masalah

1.2.1.      Pengertian Perkembangan Agama ?

1.2.2.      Bagaimana perkembangan agama pada masa anak-anak ?

1.2.3.      Bagaimana sifat agama pada anak ?

1.2.4.      Apa saja tahap perkembangan agama pada anak ?

1.2.5.      Apa saja faktor yang mempengaruhi perkembangan agama ?

1.2.6.      Bagaimana upaya optimalisasi perkembangan agama ?


1.3.  Tujuan Permasalahan

1.3.1.      Mengetahui pengertian perkembangan agama.

1.3.2.      Mengetahui bagaimana perkembangan agama pada masa anak.

1.3.3.      Mengetahui bagaimana sifat agama pada anak.

1.3.4.      Mengetatahui tahap perkembangan beragama pada anak.

1.3.5.      Mengetahui apa aja faktor yang mempengaruhi perkembangan agama.

1.3.6.      Mengetahui upaya optimalisasi perkembangan agama.




BAB 2

PEMBAHASAN


2.1.  Pengertian Perkembangan Agama

Perkembangan merupakan suatu perubahan dan perubahan ini tidak bersifat kuantitatif melainkan kualitatif yaitu meliputi perkembangan segi fungsi-fungsi kepribadian manusia misalnya fungsi perhatian, pengamatan, tanggapan, ingatan, fantasi, pemikiran, perasaan dan kemauan setiap fungsi yang disebutkan di atas dapat mengalami perubahan. Perubahan ini tidak dapat dikatakan sebagai pertumbuhan melainkan perkembangan. Oleh karena itu perkembangan menyangkut berbagai fungsi baik jasmaniah maupun rohaniah maka akan salah apabila kita beranggapan bahwa perkembangan adalah semata-mata sebagai pertumbuhan atau proses psikologis perkembangan.

Perkembangan jiwa beragama pada anak mengikuti pada aspek perkembangan jiwa yang lainnya. Pada umumnya, pembahasan tentang perkembangan jiwa terbagi menjadi tiga bagian, pembagian tersebut amat disederhanakan, sehingga membutuhkan pejelasan tersendiri.

a.       Menurut Zakiah Darajat

Klasifikasi yang ditampilkan misal amat luas. Sebagai contoh adalah perkembangan jiwa pada masa anak-anak, termasuk di dalamnya perkembangan pada masa sebelumnya, masa anak-anak awal, sehingga rentang untuk anak-anak dimulai dari umur 2-12 tahun, yang jelas jauh beragam dan terpadu.

Zakiah Darajat menjelaskan bahwa dalam diri manusia, selain mempunyai kebutuhan jasmani juga mempunyai kebutuhan rohin. Terdapat enam unsur kebutuhan yaitu:

1)      Kebutuhan akan kasih sayang

2)      Kebutuhan akan rasa aman

3)      Kebutuhan akan rasa harga diri

4)      Kebutuhan akan rasa bebas

5)      Kebutuhan akan rasa sukses dan

6)      Kebutuhan akan rasa ingin tau.

Gabungan dari keenam kebutuhan itu menyebabkan orang membutuhkan agama.

b.      Menurut Bernard Spikal, Walter Houstan Clark, Leiws Sherril dan sebagainya.

Dalam penjelasannya diuraikan tentang perkembangan religius selama tahap-tahap besar dalam kehidupan. Mereka mencoba mengungkap sumber jiwa beragama pada diri seseoarang.

c.       Thomas mengungkapkan teori The Four Wishes (1969).

Menyatakan terdapat empat macam keinginan dasar yang ada pada dalam jiwa, dan inilah yang menjadi sumber jiwa beragama, yaitu:

1)    Keinginan untuk keselamatan

2)    Keinginan untuk mendapat penghargaan

3)    Keinginan ditanggapi dan

4)    Keinginan akan pengetahuan (pengalaman) yang baru.

d.      G.M. Straton (1993)

Mengemukakan teori konflik. Jiwa Jiwa beragama,menurutnya adalah bersumber pada adanya konflik dalam kejiwaan manusia. Jika konflik itu mulai mencekam manusia akan mempengaruhi keadaan jiwanya, manusia akan berusaha mencari pertolongan pada kekuasaan yang tertinggi. Thomas Van Aquino berpendapat bahwa sumber jiwa agama adalah berpikir. Manusia bertuhan karena manusia menggunakan kemampuan berpikirnya. Manusia bertuhan karena manusia menggunakan kemampuan berpikirnya.

Jadi, perkembangan agama dapat dikatakan sebagai bentuk perubahan kepribadian manusia yang meliputi perhatian, pengamatan, tanggapan, ingatan, fantasi, pemikiran, perasaan dan kemauan tentang adanya konsep ke-Tuhanan.


2.2.  Perkembangan agama pada masa anak

Pada umumnya agama seseorang ditentukan oleh pendidikan,pengalaman dan latihan-latihan yang dimulai pada masa kecilnya dulu yang didapatkan dari keluarga, pendidikan sekolah dan lingkungan sekitarnya. Apabila seorang pada masa kecilnya tidak pernah mendapatkan pendidikan agama, maka kelak dewasanya nanti ia tidak akan merasakan pentingnya agama dalam hidupnya. Lain halnya dengan anak yang waktu kecilnya mempunyai pendidikan dan pengalaman agama, misalnya ibu dan bapaknya orang tua beragama, lingkungan sosial dan kawan-kawannya juga hidup menjalankan agama. Maka orang itu dengan sendirinya mempunyai kecenderungan kepada hidup dalam aturan-aturan agama, dan dapat merasakan betapa nikmat hidup dalam beragama.

Bagaimana timbulnya kepercayaan agama pada anak-anak, jika anak-anak dibiarkan saja tanpa didikan agama, dan hidup dalam lingkungan tidak beragama, maka ia akan menjadi dewasa tanpa agama. Pendapat Kohnstam mengenai tahap perkembangan pada kehidupan manusia dibagi menjadi lima periode, yaitu: pertama, Periode vital (umur 0-3 tahun), kedua, periode estetis/masa mencoba dan bermain (umur 3-6 tahun), ketiga, periode intelektual ”masa sekolah” (umur. 6-12 tahun), keempat, masa adolescence atau masa pemuda (umur 12-21), kelima, masa kematangan fisik dan psikis-dewasa (umur 21 keatas).

Elizabeth B. Hurlock membagi masa kanak-kanak menjadi tiga periode, yaitu:

·      0-2 tahum (masa vital)

·      2-6 tahun masa(kanak-kanak)

·      6-12 tahun (masa sekolah)

Ada dua pendapat yang menyatakan bahwa anak dilahirkan bukan sebahgai makhluk religius, melainkan tak ubahnya seperti makhluk lainnya. Dan yang kedua pendapat para ahli mengemukakan bahwa anak dilahirkan telah membawa fitrah keagamaan, dan baru berfungsi kemudian setelah melalui bimbingan dan latihan sesuai dengan tahap perkembangan jiwanya. Sejalan dengan sependapat diatas, seperti yang telah popular sebuah statement yang dikemukakan oleh William Stem dalam faham konvergensinya bahwa perkembangan individu itu baik dasar (bakat dan keturun) maupun lingkungan keduanya memerankan peranan penting.

Jadi, penulis menyimpulkan perkembangan jiwa beragama pada anak diperoleh melalui pendidikan, bimbingan dan pengalaman-pengalaman yang diterima dari lingkungan kemudian terbentuklah rasa keagamaan pada diri anak.


2.3.  Sifat agama pada masa anak

Sifat Agama pada anak mengikuti pola concept on authority yaitu konsep keagamaan, yang dipengaruhi oleh faktor dari luar diri mereka anak itu sendiri. Ketaatan dan tidaknya dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, orang tua atau guru mereka. Sifat Keagamaan pada anak dapat dibagi menjadi enam bagian, antara lain :


a.    Unreflektif (kurang mendalam dangkal/tanpa kritik)


dalam penelitian Machion tentang sejumlah konsep ke-Tuhanan pada diri anak, 73% mereka manggap tuhan itu bersifat seperti manusia. Pada fase ini anak memahami kebenaran agarna kurang begitu mendalam, mereka merasa puas dengan penjelasan/keterangan walaupun kurang masuk akal. Menurut penelitian, pikiran kritis baru muncul ketika umur 12 tahun, sejalan dengan perkembangan moral.


b.    Egosentris


Anak memiliki kesadaran akan diri sendiri sejak tahun pertama usia perkembangannya dan akan berkembang sejalan dengan pertambahan pengalamannya. Anak lebih menonjolkan kepentingan dirinya dan lebih menuntut konsep keagamaan yang mereka pandang dan kesenangan dirinya. Sebagai contoh tujuan do'a dan sholat yang mereka lakukan adalah untuk mencapai keinginan pribadi.

Mereka meminta sesuatu yang diinginkannya, minta ampun atas segala dosa yang telah diperbuatnya, dan minta tolong atas ketidakmampuan yang mereka hadapi, sifat ini muncul berkisar antara usia 5-9 tahun. Dalam usia ini juga doa secara khusus dihubungkan dengan kegiatan atau gerak-gerik tertentu, tetapi amat konkret dan pribadi. Pada usia 9-12 tahun ide tentang do’a sebagai komunikasi antara anak dengan yang ilahi mulai tampak. Setelah itu isi do’a beralih dari keiniginan egoistis menuju masalah yang tertuju pada orang lain yang bersifat etis.


c.    Andiromorphis


Konsep anak mengenai ketuhanan pada umumnya berasal dari pengalaman. Ketika berhubungan dengan orang lain. Tapi suatu kenyataan bahwa konsep ke-Tuhanan mereka tampak jelas menggambarkan aspek-aspek kemanusiaan. pertanyan anak mengenai "bagaimana" dan "mengapa" biasanya mencerminkan usaha mereka menghubungkan penjelasan religius yang abstrak dengan dunia pengalaman mereka yang bersifat subjektif dan konkrit.

Hasil penelitian Praff misalnya anak usia 6 tahun, kebanyakan menggambarkan Tuhan seperti manusia yang mempunyai wajah, telinga, mata, dsb. Dan memberi ganjaran atau hukuman misalnya dihubungkan dengan oiang tua ketika memberi hadiah.


d.   Verbalis dan Ritualis


Kehidupan agama pada anak sebagian besar tumbuh dari sebab ucapan (verbal). Mereka menghafal secara verbal kalimat-kalimat keagamaan dan mengajarkan amaliah yang mereka laksanakan berdasarkan pengalaman Yang diajarkan kepada mereka. Menurut penyelidikan hal itu sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan agama anak di usia dewasa. Latihan-latihan bersifat verbalis dan upacara keagamaan yang bersifat ritualis (praktik) merupakan hal berarti dan merupakan salah satu ciri dari tingkat perkembangan agama pada anak-anak.


e.       Imitatif


Peranan orang tua terhadap anak sangatlah penting, karena perbuatan tindak keagamaan anak yang dilakukan oleh anak-anak pada dasarnya diperoleh melalui imitasi (meniru). Sifat peniru ini merupakan modal yang positif dalam pendidikan keagamaan pada anak. Pendidikan sikap religius anak pada dasarnya tidak berbentuk pengajaran akan tetapi berupa teladan atau peragaan hidup yang nyata (riil). Penghayatan keagamaan anak-anak sebenarnya belum merupakan keseriusan, sebab tingkat perkembangan pikirannya baru pada tingkat imitative.


f.       Rasa heran


Rasa heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan pada anak. Berbeda dengan rasa heran pada orang dewasa, rasa heran dan kagum anak belum didasari dengan kritis dan kreatif. Mereka hanya kagum dengan keindahan lahiriyah saja. Hal ini merupakan langkah pertama dari pernyataan kebutuhan anak akan dorongan untuk mengenal sesuai yang baru (new experience). Untuk itu perlu bagi orang tua memberi pengertian dan penjelasan sesuai dengan perkembangan pemikirannya.


2.4.  Tahap perkembangan beragama pada anak


Menurut penelitian Ernes Harm dalam bukunya the development of religious of children mengatakan bahwa ada 3 tingkatan perkembangan agama pada masa anak-anak, yaitu :


a.    The fairy tale stage ( tingkatan dongeng ).


Tingkatan ini di mulai pada anak yang berusia 3-6 tahun. Pada tingkat ini konsep mengenai Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi, sehingga dalam menanggapi agama, anak masih menggunakan konsep fatantis yang diikuti oleh dongeng-dongeng yang kurang masuk akal. Pada usia ini, perhatian anak lebih tertuju pada para pemuka agama dari pada isi ajarannya, dan cerita akan lebih menarik jika berhubungan dengan masa anak-anaknyakarena sesuai dengan dengan jiwa anak-anaknya.


b.    The realistic stage ( Tingkat Kenyataan ).


Tingkat ini dimulai sejak anak masuk sekolah dasar hingga ke usia (masa usia) adolesense. Pada masa ini ide ke-Tuhanan anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang berdasarkan kepada kenyataan (realistas). Dan biasanya muncul dari lembaga agama atau pengajaran orang dewasa.pada masa ini konsep Tuhan di dasarkan atas emosinya, sehingga melahirkan konsep Tuhan yang formalis. Pada tingkat ini pemikiran anak tentang Tuhan sabagai bapak beralih pada Tuhan sebagai pencipta. Pada tahap ini jaga terdapat satu hal yang perlu di garis bawahi anak dalam usia 7 tahun anak di pandang sebagai permulaan pertumbuhan logis. Seperti contoh anak di biasakan melakukan shalat usia dini dan pukulah bila anak melanggarnya, sebagaimana hadist berikut :

لسبع سنين واضر بو هم عليها لعشر سنين و فر قوا بينهم فى المضا جع الحديث قال رسول الله ص م


c.    The individual stage ( Tingkat individu )


Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang paling tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka.


2.5.  Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Anak


a.       Faktor Lingkungan Keluarga


Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak. Oleh karena itu, kedudukan keluarga dalam pengembangan kpribadian anak sangatlah dominan. Dalam hal ini, orang tua mempunyai peranan yang sangat penting dalam menumbuhkembangkan fitrah beragam anak.


b.      Faktor Teman Sejawat atau Lingkungan Bermain


Saat anak bartambah usia dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan anggota kelompok sebaya, teman-teman ini akan mempengaruhi perkembangan agamanya. Semakin kecil kelompok kelompoknya, semakin besar juga pengaruh kelompok itu terhadap anak.


c.       Faktor Lingkungan Sekolah


Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang mempunyai program yang sistematik dalam melaksanakan bimbingan, pengajaran, dan latihan kepada peserta didik agar mereka berkembang sesuai dengan potensinya.


d.      Faktor Perilaku atau Pribadi Orang Dewasa


Kualitas perkembangan kesadaran baragama bagi anak sangat bargantung juga pada kualitas perilaku atau pribadi orang dewasa atau warga masyarakat.


e.       Media masa


Media masa sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan seseorang, dengan adanya media masa, seorang anak dapat mengalami perkembangan dengan pesat. Media masa dapat merubah perilaku seseorang ke arah positif dan negatif.


2.5.  Upaya Optimalisasi Perkembangan Agama pada Anak


Keluarga adalah tempat yang pertama bagi anak untuk memperoleh pembinaan mental dan pembentukan kepribadian. Demikian juga gengan agama, orang tua harus memberikan perlakuan yang adil serta dibiasakan pula untuk berbuat adil sehingga rasa keadilan dapat tertanam dalam jiwa anak. Mengingat pentingnya pendidikan agama bagi anak dan banyaknya orang tua yang yang tidak mengerti tentang agama, maka pendidikan agam harus dilanjutkan disekolah. Pendidikan agama di sekolah bertujuan untuk membina dan menyempurnakan pertumbuhan, perkembangan dan kepribadian anak didik.

Pembinaan jiwa agama pada anak menjadi tanggung jawab semua pihak menuju terciptanya kematangan beragam si anak di kemudian hari. Ciri-ciri kematangan beragama seseorang menurut Yusuf (2006), adalah :

a.    Kesadaran bahwa setiap perilakunya tidak terlepas dari pengawasan Allah.

b.    Mengamalkan ibadah ritual secara ikhlas.

c.    Menerima romantika kehidupan dengan ikhlas.

d.   Bersyukur dengan pembuktian bila mendapatkan anugerah.

e.    Bersabar pada saat mendapatkan musibah.

f.     Manjalin ukhuwah islamiyah.

g.    Menegakkan amar makhruf dan nahi munkar.


Untuk mencapai kematangan seperti disebutkan diatas, beberapa upaya dapat dilakukan, khususnya di lingkungan sekolah, upaya yang dimaksud adalah sebagai berikut :

a.       Guru agama di tuntut untuk memiliki karakteristik yang menunjang peningkatan minat agama para siswa, seperti :

1)      Kepribadian yang mantap (akhlak mulia) seprti : jujur, bertanggung jawab, berkomitmen terhadap tugas, disiplin dalam bekerja, kreatif, dan resfek terhadap siswa.

2)      Menguasai disiplin ilmu dalam bidang studi agama islam, memiliki pemahaman yang memadai tentang bidang studi yang diajarkan.

3)      Memahami ilmu-ilmu lain yang relevan atau menunjang kemampuannya dalam mengelola proses pembelajaran.

b.      Kepedulian kepala sekolah, guru-guru, dan staf sekolah lainnya terhadap pelaksanaan pendidikan agama (penanaman nilai-nilai agama) di sekolah, baik melalui pemberian contoh dalam dalam bertutur kata, berperilaku dan berpakaian yang sesuai dengan ajaran islam.

c.       Tersedianya sarana ibadah yang memadai dan memfungsikannya secara optimal.

d.      Terselenggaranya kegiatan ekstra kurikuler kerohanian bagi para siswa dan ceramah-ceramah atau diskusi keagaaman secara rutin.


Dengan demikian, dapat penulisan simpulkan bahwa keluarga dan sekolah mempunyai andil yang besar dalam pendidikan agama anak. Di keluarga orang tua lah yang memberikan pembinaan mental dan pembentukan kepribadian anak. Di sekolah guru agama di tuntut untuk memiliki karakteristik yang menunjang peningkatan minat agama para siswa. Tersedianya sarana ibadah yang memadai juga berperan penting dalam membina pendidikan beragama pada anak.

BAB 3
PENUTUP


3.1.  Kesimpulan


Agama pada masa anak-anak terbentuk melalui pengalaman-pengalaman yang diterima dari lingkungan lalu terbentuk sifat keagamaan pada anak, Woodwort berpendapat bahwa bayi memiliki insting keagamaan, akan tetapi disanggah oleh pemikir Islam bahwa bayi tidak mempunyai insting keagamaan melainkan itu merupakan fitrah yang cenderung kearah potensi keagamaan.

Tahap perkembangan keagamaan pada anak melalui tiga tahapan yaitu tingkat dongeng, tingkat kepercayaan, dan tingkat individu sifat Agama pada anak mengikuti pola concept on authority yaitu konsep keagamaan yang dipengaruhi oleh faktor dari luar diri mereka (anak) itu sendiri. Memahami sifat agama pada anak berarti memahami sifat agama itu sendiri.


3.2.  Saran


Dengan penulisan makalah ini, penulis mengharapkan para pembaca tidak pernah puas untuk menggali lebih dalam lagi tentang perkembangan-perkembangan pada anak. karena masih banyak lagi perkembangan selain dari perkembangan agama yang tidak penulis jelaskan dalam makalah ini.




DAFTAR PUSTAKA


Jalaludin. 2004. Psikologi Agama. Raja Grafindo Persada : Jakarta

Yusuf, Samsu. 2006. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Rosda Karya :

Bandung







Tidak ada komentar:

Posting Komentar